Saturday, 30 May 2015

Cinta dan Ketulusan Seorang Perawat

Ini kisahku saat aku masih menjadi pacarnya. Ya, panggil saja dia Kartika, seorang calon perawat cantik yang sedang menjalani studinya di salah satu akademi keperawatan di Jawa Barat. Saat itu aku bekerja sampingan sebagai supir bus untuk memenuhi kebutuhan biaya studiku dan ongkos kuliahku. Pada awalnya kami menjalani kisah cinta kita seperti layaknya yang lain. Tak memandang siapa aku dan dirinya. Namun ada satu hal yang membuat aku menangis dan menyesal hingga saat ini.

Mungkin siapa yang tak minder bila salah satu dari pasangan ada yang lebih kaya dan mapan dibanding dirinya. Begitulah yang terjadi denganku. Saat aku bertemu dengan keluarganya, aku mulai merasa minder dengan diriku. Bagaimana tidak? Ayahnya seorang kontraktor, Ibunya seorang guru teladan, Kakaknya bekerja sebagai dokter dan dirinya seorang calon perawat yang pintar, cantik, dan bahkan pernah tercatat sebagai mahasiswa terbaik. Sedangkan diriku hanya seorang mahasiswa organisatoris yang bekerja sebagai supir. Aku berfikir bagaimana perasaan orangtuanya saat mendengar kalau pacar putrinya hanya seorang "supir" sedangkan keluarganya adalah keluarga mapan? Bagi Kartika mungkin tak masalah karena dia sudah tahu semuanya.

Setelah pertemuan itu aku menjadi selalu membayangkan hal itu hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menjadi seorang supir dan cukup mempunyai title mahasiswa teknik. Aku pun mengunggah foto ke sosial mediaku tentang perpisahanku dengan kemudi bus yang selama ini aku pakai. Berat memang namun apa daya, aku tak mau memalukan dirinya dihadapan orangtuanya.

Beberapa hari setelah aku resign dari pekerjaanku. Kujalani hidupku dengan kuliah dan rapat walaupun aku mulai merasa keuanganku tak menentu. Suatu hari pacarku ingin bermain ke Jl. Asia Afrika menikmati malam penuh cahaya lampu dengan nuansa Tempo Dulu. Aku pun mengiyakannya dan kami bertemu di Stasiun Bandung. Dengan pakaian dinasnya dia datang memelukku dengan rasa rindu.

Kami pun berjalan menyusuri deretan bangunan tua. Tak lupa kami pun mengabadikan momen itu seolah kami tak mau melewatkan sedikit pun kehangatan ini. Hingga tibalah percakapan di depan Pintu Masuk Museum Konperensi Asia Afrika itu :

"Yang, kamu berhenti yah jadi supir" tanya pacarku.
"Loh kok tahu? Tahu darimana emang?"
"Lahh yang ngupload foto itu apa?"
"Iya neng, aa berhenti jadi supir" jawabku dengan pelan.
"Kenapa keluar? Padahal sayang kan buat nambah uang sehari-hari" tanya dia.

Aku pun terdiam. Entah aku harus jujur atau tidak ku coba keluarkan alibiku. Namun seolah tidak percaya dengan perkataanku hingga dia pun terus mendesak aku untuk jujur. Lama kelamaan aku pun terpaksa harus jujur dengan alasanku yang sesungguhnya. Dia pun menyimak kata - kata yang aku ucapkan. Mataku mulai mengembang menahan air mata agar tak menangis disampingnya. Namun apa yang dia katakan? Dengan memeluk erat lengan kiriku dan menyandarkan kepalanya dibahuku dia berkata :

"Sayang, buat apa kamu malu? Toh Abbi sama Ummi udah tahu kok apa pekerjaan aa" jawabnya dengan senyuman.

Seketika aku terhenyak dengan perkataan dia. Aku tak percaya kalau dia telah menceritakan semua tentang diriku pada keluarganya. Bahkan mereka salut dengan usaha dan kerja kerasku untuk bisa hidup mandiri memenuhi kebutuhan kuliah dan hidupku walau harus menempuh ratusan kilometer hamparan aspal jalanan.

"Aa, malahan Abbi sampe bilang : Ga masalah pacar kamu hari ini seorang supir. Toh Abbi pun dulu hampir sama kaya pacarmu itu. Tapi bimbinglah dia untuk menjadi lelaki yang baik untuk masa depannya dan masa depanmu. Karena semangat seorang perempuan adalah kekuatan bagi laki-lakinya. Gitu kata Abbi yang" jawabnya dengan penuh senyum dan manja.

Air mataku tak lagi terbendung. Aku pun menyesali apa yang telah ku perbuat. Ku peluk erat dia sambil mengucapkan kata maaf dari mulutku. Selama aku berpacaran baru kali ini aku dibuat menangis oleh perempuan untuk yang kedua kalinya. Semangat dari dirinya membuat aku sadar kalaulah aku harus menjadi lelaki yang baik untuk dirinya tak peduli sepeerti apa dirimu di masa lampau dan hari ini.

Kini, kami berdua sudah pisah. Namun penyesalanku tetap masih melekat pada diriku. Terkadang dia sering menelpon atau kadang menemuiku di suatu tempat hanya untuk menanyakan kabar diriku walaupun sebenarnya dirinya sudah ada pengganti yang lebih baik dariku. Sekalipun kami sudah berpisah, namun dia selalu memberi semangat. Bahkan dia pun memberikanku lagu Rahmi - Jangan Pernah Berhenti yang cover albumnya sudah diganti wajah dia. Ada satu bait yang selalu aku ingat :


"...Gapai mimpimu
Jangan pernah berhenti
Sampai kau temukan apa yang kau cari
Walau jatuh bangkitlah kembali
Dan lihatlah keajaiban pasti terjadi.."