Wednesday, 10 February 2016

Sajak Saijah untuk Adinda

Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku pernah melihat laut lepas di Pantai Selatan, ketika aku di
sana membuat garam bersama ayahku;
Jika aku mati di lautan, dan mereka membuang jasadku ke air dalam, hiu-hiu akan datang.
Mereka akan berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya:
“Yang mana dari kami sebaiknya menelan tubuh ini, yang tenggelam ke dalam air?”—
Aku tidak akan dengar.
Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku pernah melihat rumah Pak Ansu yang terbakar, yang telah dia bakar sendiri karena dia sudah gila.
Jika aku mati dalam rumah yang terbakar itu, kayu yang membara aku terjatuh ke mayatku,
Dan di luar rumah aka nada orang-orang yang berteriak dengan nyaring, sambil melemparkan air untuk memadamkan api.
Aku tidak akan dengar.
Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku pernah melihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, ketika dia sedang memetik sebuah kelapa untuk ibunya.
Jika aku mati dari pohon kelapa, aku akan terbaring mati di kaki pohon, di semak-semak, seperti Si Unah.
Ibu tidak akan menangisiku, karena dia sudah meninggal. Tetapi yang lainnya akan menangis dengan suara nyaring: “Lihat, di sana terbaring Saijah!”
Aku tidak akan dengar.
Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku pernah melihat jasad Pak Lisu, yang meninggal karena umur tua, karena rambutnya berwarna putih.
Jika aku mati karena umur tua, dengan rambut putih, para wanita yang berduka akan berdiri mengitari jasadku.
Dan mereka akan meretap dengan nyaring, seperti para wanita yang berduka mengelilingi jasad Pak Lisu. Dan para cucu juga akan menangis, sangat nyaring—
Aku tidak akan dengar.
Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku sudah melihat banyak orang di Badur mati. Mereka dibungkus dengan kain putih, dan dikubur dalam tanah.
Jika aku mati di Badur, dan mereka menguburku di luar desa, di sebelah Timur di balik bukit, di mana rerumputan begitu tinggi,
Ketika Adinda melewati jalan itu, dan keliman sarungnya dengan lembut akan menyapu rumput yang dilewati…
Maka aku akan dengar

Friday, 5 February 2016

CHSS : Balada Supir dan Mania(k)

Busyeett dah, udah kaya lahan gambut aja nih blog -_-. wajar guys sekian lama ane udah ga ngeblog lantaran lagi krisis duit buat beli paket. Entah karena dolar waktu itu naik jadi buat beli jengkol tiga keping pun rasanya kaya beli daging sapi impor gitu. Hadeuh... tapi ga masalah. Selagi wifi BandungJuara@wifi.id masih terpasang, selama itu pula hidup ane terjamin (Karena buat buka PTC) :v

Waduh ngomongin soal hobi itu emang ga bakal ada habisnya. Mau itu dibahas 5 sks pun rasanya cukup. Entah itu buat bahas batu akik yang terus digosok sampe beres pembahasan atau masalah hati yang bisa dibilang cukup kronis sampe-sampe yang minta pendapat pun punya pendapat sendiri. Kan bete -_- tapi apapun hobinya, gue hargai selagi masih positif. Kecuali hobi yang bisa positif hamil. IYKWIM :v

Hadeuh... ngomong-ngomong selama ane menjadi supir, ane sering lihat disepanjang jalan dari mulai tancap gas dari terminal hingga injek rem di tempat tujuan banyak banget para penggemar saya (Maksudnya sih busnya, bukan saya). Dari anak-anak kecil sekitar kelas 4-5 SD sampe Remaja bahkan aki - aki pun bela-belain datang cuma mau ngerasain nikmatnya bus yang berseliweran di zaman sekarang ini. 

Tapi dibalik para bismania yang baik ada pula yang sedikit ngeyel (nih yang negeyel belum tau rasanya diteriakin klakson telolet). Terkadang yang sering buat ane jengkel ketika para mania(k) ini sering membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Mulai minta lampu dim dan klakson telolet tapi lompat ketengah jalan, ngambil gambar mepet pinggir jalan, minta ngeblong, sampe-sampe ada  yang mendadak jadi atlit pelempar batu (Nah ini yang paling serem).

Mungkin kita juga kudu sadar guys akan keselamatan diri kita. Menurut ane sih gak masalah mau hunting sampe subuh jedur atau gimana, tapi tetep utamakan keselamatan. Mungkin kita pernah denger kan ada salah satu bismania yang tewas akibat kelalaiannya saat dia hunting? Atau yang lebih ngeyel lagi ketika si mania(k) ini minta ngeblong dan nyusulin kendaraan didepannya hanya untuk video kalau bus kesayangan dia bisa melaju kencang? Haduh boos jangan lah kasian supir. Mana nyawa semua tuh yang dibawa -____-

Kadang ane sendiri pun ga bisa memarahi mereka. karena berita sekarang sudah secepat Bus Patas. Kejadiannya baru satu menit yang ngupload ratusan. Gimana engga, saat kita marahin para huntingers ini mereka pegang kamera sewaktu -waktu merekam aksi perbuatan kita. hadeuhhh dilematis :(

Tapi bray, ngomongin hobi ini memang ane pun sebetulnya mendukung. Soalnya karena para bismania ini kita seolah-olah dapet promosi gratis bray. Makannya ga heran setiap ane narik pasti aja didalem bus lengkap sudah isinya bahkan setiap keluar terminal ga perlu lagi nyari penumpang. Mulai dari karung cabe rawit hingga cabe-cabean setiap umur ada. Mulai dari penjual terong hingga para terong memenuhi sesaknya bus bumelku ini. Asalkan jangan terong dicabein aja yang duduk samping ane apalagi bocah-bocah pengemis telolet. Pliiss jangan braaayy... masukin aja ke bagasi mesin disana kosong dek -_-

Sampai disini dulu bray curhatan ane yang ga jelas ini. Moga kita ketemu lagi di postingan berikutnya. Jangan lupa : Intine Yakin Mengko Alangane Minggir Dewek