Sunday, 2 February 2014

Kisah Perjuangan Kuliah Seorang Anak Pinggiran Sawah

Mungkin itu sangat pantas kusandangkan kata-kata itu untukku. Yap, hidupku yang sederhana menjadikan hidupku ditempa menjadi orang yang selalu mensyukuri nikmat atas apa yang telah diberikan. Tak hanya kisah cintaku yang sulit, ini pun kualami saat aku akan masuk kuliah. Dengan kondisiku yang semakin terhimpit aku terus berjuang menuju cita-citaku walaupun tak semudah air mengalir di celah yang sempit. Mungkin ini juga sebagai cerminan buat adik-adik kelasku yang hendak menempuh masa kuliah agar bisa lebih baik dari yang aku alami hari ini.

Kelas XII, adalah kelas penantian nasib dimana aku akan menempuh dunia baru. Segala persiapan aku siapkan dari persiapan fisik hingga mentalku. Saat itu ada dua jalur yang sangat terkenal. Ya, itulah SNMPTN, jalur masuk kuliah yang sangat menggiurkan dimana beribu orang berusaha merangsek masuk kedalam kampus yang mereka idamkan lewat jerih payah mereka selama 3 tahun belajar. Dengan nilai rapotku yang.. waah mungkin dibilang jauh dari kata baik aku coba meraih asa diantara dua kampus empat jurusan. Ku coba untuk di ITB dengan jurusan SAPPK dan FITB dan di UIN SGD Bandung dengan jurusan Teknik Informatika dan Teknik Elektro karena memang aku sangat menyukai yang namanya teknik. Tak lupa setiap malam aku berdoa dan terus belajar ditengah segala keterbatasanku.

Sambil menunggu pengumuman SNMPTN dan UN, aku pun mencoba untuk daftar ke Politeknik Negeri Bandung (POLBAN) melalui Jalur PMDK, namun disinilah awalku terjatuh. Saat itu ada salah satu syarat yang mana pendaftar tidak boleh buta warna. Aku mulai was-was karena aku pernah cek melalui sebuah software, tapi karena aku belum percaya kuperiksakan mataku ke RS Mata Cicendo. Dunia ini seakan runtuh ketika aku ternyata mengidap penyakit buta warna! Andai saja ada obat dari penyakit ini mungkin aku bisa walau hanya sementara tetapi? itulah takdirku. Aku harus kandas karena penyakitku itu. Yang parah lagi, pilihan studiku di SNMPTN mensyaratkan tidak boleh buta warna? Aku tak berani bilang kepada orang tuaku apalagi ibuku yang divonis sebagai pewarisnya. Tapi aku masih tegar! Satu Pintu Air Tertutup, Seribu Ladang Terairi, itulah prinsipku hingga saat ini. Aku belum menyerah karena takdir masih bisa diubah hingga akhirnya benar saja, aku tak diterima dikedua universitas itu.

Tak ada kata terlambat! Aku pun langsung mempersiapkan diri untuk perang selanjutnya. Ya... SBMPTN dan SPMB-PTAIN. Dari mulai les privat, kerja kelompok, latihan soal, dan yang lainnya ku persiapkan dengan semaksimal mungkin. Tak peduli entah itu pulang malam, berapa uang yang harus dikeluarkan hingga sempat aku jatuh sakit karena terlalu kecapean. Semua itu aku lakukan hanya untuk menempuh perkuliahan yang aku cita-citakan.

Waktu terus bergulir namun nasib tetaplah sama seperti selanjutnya, aku masih belum juga diterima di kedua ujian itu. Bahkan orang tuaku menangis melihat aku gagal dan gagal lagi. Aku memang sedih tetapi bukan sedih karena aku tak lulus, tetapi karena air mata orangtuaku yang keluar dari kelopak matanya sehingga aku pun merasa teriris hati.

Aku pun belum patah semangat, ku putar haluanku menuju Ujian Mandiri. Yap, aku tahu itu beresiko. Bukan beresiko ujian masuknya tetapi bila aku diterima maka kedua orang tuaku harus mengeluarkan uang yang tak sedikit bila melalui jalur itu. Namun aku tak menghiraukan masalah keuangan yang sedang melanda pada saat itu. Ku ikuti semua ujian jalur mandiri yang masih ada pada saat itu seperti UIN SGD Bandung, UNPAD, UPI, UGM, PNJ, dan POLBAN ketika itu aku coba. Dengan uang yang aku miliki dari hasil menjadi seorang supir angkutan umum aku tempuh ujian itu. Namun tuhan belum juga menghendaki aku untuk kuliah disana. Memang sedih bahkan rasanya dunia tak lagi memihak kepada kita. Tetapi aku belum menyerah, sekalipun raga taruhannya.

Aku sempat mengikuti ujian di salah satu PTK yaitu STAN. Dengan semangat yang diberikan oleh ayahanda aku terus mencoba berjuang karena dulu aku sempat berkeinginan untuk masuk kesana. Tapi masih saja hasilku belum maksimal.

Hingga suatu ketika aku iseng mengajukan beasiswa ke luaer negeri. Sedikit pesimis pada waktu itu karena jangankan keluar negeri, di dalam negeri saja sudah tidak keterima apalagi disana. Tapi tidak salahnya aku mencoba karena mungkin saja disana rezeki ku. Ku kirimkan semua transkrip nilai dan semua yang kubutuhkan melalui kedubes dan... Alhamdulillah aku layak untuk mengikuti tes kedua untuk ujian. Disini aku mulai bingung apa yang harus aku lakukan karena keuangan kedua orang tuaku menipis karena keinginanku untuk kuliah. Dan dengan terpaksa aku berbohong pada kedua orang tuaku meminta uang untuk ikut USM di UNJ, padahal uang itu kugunakan untuk ongkos ke jakarta. Selama di jakarta aku tidur di stasiun jatinegara. Itu pun aku sampai diusir oleh pihak keamanan disana. Tapi dengan memaksa aku izin tidur satu malam saja. Akhirnya aku pun diizinkan hingga setelah subuh aku pun langsung pergi. Dan akhirnya aku pun bersyukur di beri kesempatan lagi untuk mengikuti tes terakhir di German. Dengan waktu 7 hari aku berada disana tanpa kehadiran keluarga yang sehari-hari kami berkumpul bersama. Tapi tak apa, demi kuliah aku merelakan itu semua.

Setelah lama aku menuggu hasil dari setelah kepulanganku dari jerman, ternyata aku masih belum juga diizinkan untu kuliah. Disini aku pun mulai tak semangat karena sudah 10 kali aku mencoba ternyata masih gagal saja. Tapi aku masih ingat pepatah guruku waktu itu : "Thomas Alfa Edison saja harus gagal sebanyak seribu kali untuk satu lampu yang akan menyinari seluruh dunia, maka kalau kamu sekali saja gagal lalu menyerah maka kamu tidak akan pernah meraih apa yang kamu impikan!"

Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk beralih ke swasta. kebetulan pada saat itu UNIKOM (tempat sekarang saya kuliah) masih membuka pendaftaran dan tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri dan mengikuti ujian saringan masuk. Dan akhirnya Tuhan mengizinkan saya untuk kuliah disini.

Permasalahanku belum sampai disana! Setelah dinyatakan lulus aku pun harus membayar uang registrasi. Ketika kulihat semuanya diluar dugaan! Aku tak punya uang untuk membayar kuliah sebanyak itu. Namun karena aku percaya bahwa tuhan akan selalu memberikan perolongan pada hambanya yang bersungguh - sungguh, akhirnya aku diberikan pinjaman uang untuk kuliah. DAn betapa senangnya saya bisa berkuliah. Dalam hatiku aku bersyukur kalau aku masih bisa diberikan kesempatan kuliah walaupun melalui jalan yang panjang. Dan sekarang saya kuliah di UNIKOM jurusan Teknik Informatika. Tak hanya kuliah aku pun mengikuti pelatihan dan kegiatan bermanfaat lainnya sehingga apa yang aku pelajari bisa diamalkan dan di aplikasikan ke dunia kerja :)


Pesan : Jangan pernah menuruti gengsi untuk berkuliah dimana pun dan jangan pernah menyerah karena banyak jalan pilihan kita untuk meraih apa yang kita cita - citakan. Percayakan pada Tuhan karena Dia-lah yang memiliki rencana terbaik untuk kita

DANPAS..!! Catatan Kecil Relawan Muda (1)

Rabu, 20 November 2013. Hawa dingin di stasiun Rancaekek begitu terasa menusuk kulit. Tak seperti biasanya aku menggunakan kereta pertama karena mau tak mau aku harus kumpul di markas jam setengah 6 walaupun kenyataannya aku sampai di sana jam 06.45 karena aku menunggu temanku Astri yang menggunakan kereta KRD Ekonomi, kereta kedua setelah aku. Awal ku di markas belum sedekat sekarang yang rata-rata kami belum mengenal lebih dekat. Tapi seiring kita selalu bersama kita menjadi lebih akrab.

Pada malam hari, aku bersama 15 temanku (selanjutnya kusebut keluarga) melakukan pengambian nomor calon anggota dan pada malam itu juga aku terpilih sebagai seorang komandan pasukan (danpas). Entah mengapa mereka begitu percaya padaku padahal aku tak baik menjadi seorang pemimpin untuk 15 keluargaku. Tapi itulah amanat, mau tak mau terimalah. Dan sejak malam itu aku mempunyai panggilan "Danpas!"

Kamis, 21 November 2013. My Fisrt Missing Fatality! Aku lupa akan panji! Aku tinggalkan begitu saja walau aku sekedar mencuci tangan. Dan akhirnya panji itu hilang! Ya, hilang diambil panitia karena ketoledoranku! Disitu aku sangat bersalah hingga akhirnya keluargaku kena hukuman. Walaupun aku dan keluargaku dihukum, itu memang pantas. Tak seperti layaknya para koruptor yang banyak alasan bahkan lari dari kesalahannya. Kami terima itu :) Tapi tak sadar aku ulangi kesalahan itu ketika sedang simulasi pertolongan pertama. Dan, yaah.. kuterima lagi hukuman itu. Tapi ada yang lebih membuatku sedih. Kami harus kehilangan satu keluarga kami karena tak bisa mengikuti pendidikan oleh orang tuanya.

Jumat, 22 November 2013. Ada sedikit angin segar bagiku karena aku harus mempersiapkan untuk perjalanan ke Gunung Puntang. Walaupun segar tapi bukan berarti bebas. Kami tetap harus siaga layaknya seorang relawan. Dengan hari yang tenang itu, kugunakan pikiran dan fisikku untuk menenangkan diri. Ditambah lagi para panitia dan senior yang lainnya menghibur kami dengan beberapa games  yang cukup membuat kami berfikir cepat namun santai.

Sabtu 23 November 2013. "Selamat Datang Di Dunia Komando!" Itulah kalimat awal petama kali kami sampai di kaki Gunung Puntang. Entah berapa kilometer kami susuri jalan setapak nan terjal menuju base camp kami. Beberapa keluarga kami pun bahkan ada yang tumbang karena kelelahan. Tapi dengan modal "Fokus, Berpikir Positif, dan Jangan Mengeluh" itulah kami bisa sampai di base camp yang kami harapkan. Walaupun kami tidur beratapkan jas hujan ponco yang didesain menjadi sebuah bivak, kami menikmati itu semua sekalipun bivak kami kebanjiran karena lupa membuat parit disekelilingnya. Hampir saja aku hipotermia disini. Eits.. Jangan Mengeluh!

Minggu 24 November 2013. Siswaa..!!! itulah teriakan yang membuat pikiran kami harus selaul siaga ketika Sweeping Seluruh barang kami diperiksa satu per satu. Ada yang tertukar, hilang, tersimpan dimana dan yang lainnya. Entah berapa kali aku dipanggil kedepan karena barangku sendiri ataupun untuk mengingatkan keluargaku. Tapi aku disini dapat satu kalimat yang paling berharga sampai saat ini, "Danpas! Kamu ini Danpas! Kalau kamu gak bisa memimpin diri kamu sendiri bagaimana kamu bisa memimpin 15 anggotamu Danpas!?". Selain itu, inilah salah satu hari yang aku terharu. Kami dilatih untuk melakukan pencarian korban di hutan atau biasa kita kenal dengan SAR. Namun ketika hendak memulai, salah satu keluarga kami berniat ingin pulang. Ku rangkul pundaknya sambil menyemangati dia agar tidak pulang. Sambil ku pegang slayer hijau milik Komandan Siswa (Dansis) ku, ku terus menyemangatinya hingga akhirnya dia mengurungkan niatnya. Namun, kesedihanku belum usai ketika panji kembali menghilang karena kesalahanku. Bodohnya aku! Aku pun lantas dipaksa pulang karena tidak bisa memegang amanah. Tapi dengan keyakinanku, aku melawan bahkan aku berusaha berontak ketika dipaksa pulang. Keluargaku pun berusaha mencegahku untuk pulang dan pada akhirnya kami peluk panji itu dengan penuh tangisan.

Senin 25 November 2013. Hari dimana kami merenungkan diri masing-masing.Ditengah kesendirian kami ditempatkan terpisah ditengah hutan yang masih rimbun akan pepohonan. walaupun ada yang berdekatan, tapi bagiku inilah hari dimana aku bisa sangat tenang merenungkan apa saja yang telah ku perbuat dan apa yang akan kulakukan esok hari. Sambil ditemani wedang jahe dimana jahe itu kudapatkan dari bubur kacang saat sebelum pemberangkatan ke tempat solo bivak dan kusimpan di saku celana dan api unggun kecil yang bersedia menghangatkan diriku dari dinginnya puntang.

Selasa, 26 November 2013. Hari kebanggaanku untuk bisa mengenakan Kaos PDL berlambangkan PMI dan KSR PMI. Walaupun kami harus menerjang dingin dan derasnya jeram bahkan aku dan salah satu anggotaku harus dua kali menerjang jeram karena ketoledoran kami, tetapi kami terus menembusnya hingga akhirnya kami bisa mengenakan Kaos yang penuh amanat suci itu. Setelah itu kami pun belajar Dapur Umum, disini kami merasa satu keluarga. Ada yang membuat kami tertawa, tegang, kesal, bahkan entah mengapa disini aku memarahi salah satu keluargaku. tapi aku senang melihatnya walaupun ini simulasi.

Rabu, 27 November 2013.
Hari dimana nama keluarga kami lahir. "Tapak Genggam Api". Suka dan Duka kami terbayar sudah dalam perjuangan kami untuk menjadi seorang Relawan Muda yang berjiwa Relawan Sejati. Slayer dan Kaos PDL pun kami telah kami gunakan. Bagi kami, Slayer dan Kaos itu bukan apa-apa, tetapi nilai juang kami dalam mendapatkan keduanya serta amanah seorang relawan itulah kami berjuang hingga saat ini. Aku pun berharap, Keluarga ini akan terus berlanjut dan bertahan 16 orang dan selamanya 16 orang. Hingga kita dipanggil oleh Sang Pemilik Raga dalam Pengabdian yang suci ini!

Terima Kasih semuanya. Khususnya Dansis kita yang kami anggap seperti ayah sendiri sebagaimana ayah yang selalu mensupport anaknya hingga akhir hayatnya :)

Dari kiri ke kanan :
Muhammad Heda Nurhidayatulloh (Saya),  Laila Rahmawati,  Sarah Arimbi Rosana, Divani Hasyati, Nurlela Seran, Fikri Piliyan Putra, Dini Azharni Nurdin, Yogi Sutana, Retno Maeningsih, 
Hendra Triatmoko, Tiara Dewi, Rusmiati Pertiwi, Astri Nur Wulansari, 
Rismawanti, Mazerianto Simanulang, Irma Tri Astuti



Bersama Komandan Siswa, Risman Rozaq Ramdhani (PDH Putih) setelah penyematan slayer

Bersama Komandan KSR (PDH Putih, ke-1 dari kiri bawah), panitia, dan tamu undangan
dari KSR PMI UNPAS, UPI, dan UIN SGD Bandung



Kalian memang bukan siapa-siapa tetapi tanpa kalian kita takkan pernah satu!




"Lakukan Usaha Terbaik Untuk Mendapatkan Hasil Terbaik"