Rabu, 20 November 2013. Hawa dingin di stasiun Rancaekek begitu terasa menusuk kulit. Tak seperti biasanya aku menggunakan kereta pertama karena mau tak mau aku harus kumpul di markas jam setengah 6 walaupun kenyataannya aku sampai di sana jam 06.45 karena aku menunggu temanku Astri yang menggunakan kereta KRD Ekonomi, kereta kedua setelah aku. Awal ku di markas belum sedekat sekarang yang rata-rata kami belum mengenal lebih dekat. Tapi seiring kita selalu bersama kita menjadi lebih akrab.
Pada malam hari, aku bersama 15 temanku (selanjutnya kusebut keluarga) melakukan pengambian nomor calon anggota dan pada malam itu juga aku terpilih sebagai seorang komandan pasukan (danpas). Entah mengapa mereka begitu percaya padaku padahal aku tak baik menjadi seorang pemimpin untuk 15 keluargaku. Tapi itulah amanat, mau tak mau terimalah. Dan sejak malam itu aku mempunyai panggilan "Danpas!"
Kamis, 21 November 2013. My Fisrt Missing Fatality! Aku lupa akan panji! Aku tinggalkan begitu saja walau aku sekedar mencuci tangan. Dan akhirnya panji itu hilang! Ya, hilang diambil panitia karena ketoledoranku! Disitu aku sangat bersalah hingga akhirnya keluargaku kena hukuman. Walaupun aku dan keluargaku dihukum, itu memang pantas. Tak seperti layaknya para koruptor yang banyak alasan bahkan lari dari kesalahannya. Kami terima itu :) Tapi tak sadar aku ulangi kesalahan itu ketika sedang simulasi pertolongan pertama. Dan, yaah.. kuterima lagi hukuman itu. Tapi ada yang lebih membuatku sedih. Kami harus kehilangan satu keluarga kami karena tak bisa mengikuti pendidikan oleh orang tuanya.
Jumat, 22 November 2013. Ada sedikit angin segar bagiku karena aku harus mempersiapkan untuk perjalanan ke Gunung Puntang. Walaupun segar tapi bukan berarti bebas. Kami tetap harus siaga layaknya seorang relawan. Dengan hari yang tenang itu, kugunakan pikiran dan fisikku untuk menenangkan diri. Ditambah lagi para panitia dan senior yang lainnya menghibur kami dengan beberapa games yang cukup membuat kami berfikir cepat namun santai.
Sabtu 23 November 2013. "Selamat Datang Di Dunia Komando!" Itulah kalimat awal petama kali kami sampai di kaki Gunung Puntang. Entah berapa kilometer kami susuri jalan setapak nan terjal menuju base camp kami. Beberapa keluarga kami pun bahkan ada yang tumbang karena kelelahan. Tapi dengan modal "Fokus, Berpikir Positif, dan Jangan Mengeluh" itulah kami bisa sampai di base camp yang kami harapkan. Walaupun kami tidur beratapkan jas hujan ponco yang didesain menjadi sebuah bivak, kami menikmati itu semua sekalipun bivak kami kebanjiran karena lupa membuat parit disekelilingnya. Hampir saja aku hipotermia disini. Eits.. Jangan Mengeluh!
Minggu 24 November 2013. Siswaa..!!! itulah teriakan yang membuat pikiran kami harus selaul siaga ketika Sweeping Seluruh barang kami diperiksa satu per satu. Ada yang tertukar, hilang, tersimpan dimana dan yang lainnya. Entah berapa kali aku dipanggil kedepan karena barangku sendiri ataupun untuk mengingatkan keluargaku. Tapi aku disini dapat satu kalimat yang paling berharga sampai saat ini, "Danpas! Kamu ini Danpas! Kalau kamu gak bisa memimpin diri kamu sendiri bagaimana kamu bisa memimpin 15 anggotamu Danpas!?". Selain itu, inilah salah satu hari yang aku terharu. Kami dilatih untuk melakukan pencarian korban di hutan atau biasa kita kenal dengan SAR. Namun ketika hendak memulai, salah satu keluarga kami berniat ingin pulang. Ku rangkul pundaknya sambil menyemangati dia agar tidak pulang. Sambil ku pegang slayer hijau milik Komandan Siswa (Dansis) ku, ku terus menyemangatinya hingga akhirnya dia mengurungkan niatnya. Namun, kesedihanku belum usai ketika panji kembali menghilang karena kesalahanku. Bodohnya aku! Aku pun lantas dipaksa pulang karena tidak bisa memegang amanah. Tapi dengan keyakinanku, aku melawan bahkan aku berusaha berontak ketika dipaksa pulang. Keluargaku pun berusaha mencegahku untuk pulang dan pada akhirnya kami peluk panji itu dengan penuh tangisan.
Senin 25 November 2013. Hari dimana kami merenungkan diri masing-masing.Ditengah kesendirian kami ditempatkan terpisah ditengah hutan yang masih rimbun akan pepohonan. walaupun ada yang berdekatan, tapi bagiku inilah hari dimana aku bisa sangat tenang merenungkan apa saja yang telah ku perbuat dan apa yang akan kulakukan esok hari. Sambil ditemani wedang jahe dimana jahe itu kudapatkan dari bubur kacang saat sebelum pemberangkatan ke tempat solo bivak dan kusimpan di saku celana dan api unggun kecil yang bersedia menghangatkan diriku dari dinginnya puntang.
Selasa, 26 November 2013. Hari kebanggaanku untuk bisa mengenakan Kaos PDL berlambangkan PMI dan KSR PMI. Walaupun kami harus menerjang dingin dan derasnya jeram bahkan aku dan salah satu anggotaku harus dua kali menerjang jeram karena ketoledoran kami, tetapi kami terus menembusnya hingga akhirnya kami bisa mengenakan Kaos yang penuh amanat suci itu. Setelah itu kami pun belajar Dapur Umum, disini kami merasa satu keluarga. Ada yang membuat kami tertawa, tegang, kesal, bahkan entah mengapa disini aku memarahi salah satu keluargaku. tapi aku senang melihatnya walaupun ini simulasi.
Rabu, 27 November 2013.
Hari dimana nama keluarga kami lahir. "Tapak Genggam Api". Suka dan Duka kami terbayar sudah dalam perjuangan kami untuk menjadi seorang Relawan Muda yang berjiwa Relawan Sejati. Slayer dan Kaos PDL pun kami telah kami gunakan. Bagi kami, Slayer dan Kaos itu bukan apa-apa, tetapi nilai juang kami dalam mendapatkan keduanya serta amanah seorang relawan itulah kami berjuang hingga saat ini. Aku pun berharap, Keluarga ini akan terus berlanjut dan bertahan 16 orang dan selamanya 16 orang. Hingga kita dipanggil oleh Sang Pemilik Raga dalam Pengabdian yang suci ini!
Terima Kasih semuanya. Khususnya Dansis kita yang kami anggap seperti ayah sendiri sebagaimana ayah yang selalu mensupport anaknya hingga akhir hayatnya :)
Dari kiri ke kanan :
Muhammad Heda Nurhidayatulloh (Saya), Laila Rahmawati, Sarah Arimbi Rosana, Divani Hasyati, Nurlela Seran, Fikri Piliyan Putra, Dini Azharni Nurdin, Yogi Sutana, Retno Maeningsih,
Hendra Triatmoko, Tiara Dewi, Rusmiati Pertiwi, Astri Nur Wulansari,
Rismawanti, Mazerianto Simanulang, Irma Tri Astuti
Bersama Komandan Siswa, Risman Rozaq Ramdhani (PDH Putih) setelah penyematan slayer
Bersama Komandan KSR (PDH Putih, ke-1 dari kiri bawah), panitia, dan tamu undangan
dari KSR PMI UNPAS, UPI, dan UIN SGD Bandung
Kalian memang bukan siapa-siapa tetapi tanpa kalian kita takkan pernah satu!
"Lakukan Usaha Terbaik Untuk Mendapatkan Hasil Terbaik"
No comments:
Post a Comment