Setiap derap langkahku, selalu teringat bagaimana raut wajahmu saat kita bersama. Sepanjang perjalananku, kurasakan betapa lelahnya hari-harimu melalui jalur-jalur yang sering kau gunakan disetiap perjalananmu menuju gudang ilmu kita berdua. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa. Sekalipun aku tak pernah bisa menutupi rasa hati ini padamu. Lelah memang, menunggu orang yang tak pernah satu hati dan satu tujuan dengan kita sekalipun kita takkan pernah bisa melupakannya. Aku memang tak bisa berbuat lebih untuknya. Sekedar kirim pesan pun aku sudah tahu, pasti dia takkan pernah mau menerima curhatku. Tapi pada saat teman-temannya yang lebih banyak laki-laki, dia mau! Apa karena mereka sahabatnya? Atau karena tingkah laku yang sempat membuatnya tersinggung lalu lebih senang meninggalkan aku yang selalu ada untuknya sementara mereka yang mungkin lebih membutuhkan kamu kemudian kamu korbankan orang yang selalu ada untukmu? Karena perasaan tidak suka yang sudah kental melekat dalam pikirannya. Ya! Mungkin aku sudah layaknya sampah dihadapan dirinya. Manis dihisap sepah dibuang!
Memang, aku bukan orang yang bisa dibilang istimewa bagi dirinya. Cuma butuhnya saja dia datang! Setelah itu? Kamu lebih memilih kembali untuk meninggalkan aku sendirian dengan hati yang mungkin kamu tahu bila memang kamu masih punya perasaan.
Kini, aku tak bisa berbuat apa-apa. Kudatangi tanah kelahiranmu pun tak ada hasrat sedikitpun untuk menepi dirumahmu. Hanya sebatas membuang asap dibalik kemudi pundiku. Karena aku pun canggung bila itu terjadi, aku hanya buat dosa orang lain saja. Membuat hatinya gendok dan geuleuh lalu menyembunyikannya dibalik senyum sapa manismu seolah aku tak tahu kalau sebenarnya dirimu dan diriku tak terjadi apa-apa. Tapi nyatanya? Kamu berkata pada orang lain dibelakangku? Ya aku tahu. Tapi buat apa aku bahas didepannya? Yang ada cuma bikin malu saja! Bukan buat dirinya sadar!
Aku takkan bicara tentang bagaimana dan mengapa kamu seperti itu. Tak seperti pada awal kita bertemu. Cukup rasa kesalku terhadapmu kupendam dalam hingga jantungku tak lagi berdenyut, nafasku tak lagi berhembus. Cukup melalui tulisan abstrakku ini aku bisa meluapkan emosi jiwaku. Aku pun tak percaya kalau kamu akan membacanya. Sekalipun kamu baca, yang ada mungkin kamu datang dan berbicara tentang tulisanku ini dengan perasaan yang penuh dengan amarah. Atau mungkin kamu akan membalasnya melalui tulisan yang percis seperti yang kubuat. Bagiku percuma! Takkan pernah kudengar! Aku hanya ingin kamu membalasnya dengan perubahan sikapmu. Pikirkan melalui pikran jernihmu. Berkacalah terhadap dirimu. Karena sampai kapanpun, amarahku takkan pernah kusampaikan untukmu. Aku harap kau berpikir ... Maaf, aku tak bisa memberimu lebih ...