Jam telah menunjukan pukul 18.00, Jadwal kuliahku yang begitu padat membuatku harus rela pulang mlam. Terlebih jarak rumahku yang mungkin bisa dibilang jauh antara Rancaekek dan Bandung. Jalanan yang macet membuatku khawatir karena aku harus lekas pergi ke stasiun untuk pulang menggunakan kereta api. Sesekali aku menggerutu pada pak supir yang kebetulan ada disampingku agar memacu kendaraannya. Andaikata milikku pun mungkin percuma kalau sudah terjebak dengan yang namanya "Macet!"
Aku pun sampai di stasiun. Berlari menuju loket karcis dengan badanku yang sedikit capek. Ketika kulihat jam di stasiun ternyata masih jam 18.05! Rupanya jam tanganku terlalu lebih sehingga membuatku panik tak habis-habisnya ketika diangkot. Sambil menunggu kereta tiba, aku sandarkan badanku yang lelah ini di tiang atap stasiun yang ada di peron. Cemilan kecil dan musik dari handphone jebret ku menemani kesendirianku. Saat itu pula seorang kakek tepat bersandar di tiang yang sama dibelakangku. Mungkin aku sedikit mengusik ketenangannya. Tapi tidak, akhirnya aku pun ngobrol bareng. Mulai dari hendak kemana pergi sampai dia menceritakan kisah hidupnya.
"Kek, mau kemana?" tanyaku pada si kakek
"Ke Cicalengka jang"
"Oh, pulang kampung?"
"Iya, mau nengokin istri disana"
"Emang masih ada kek?"
Sejenak si kakek terdiam. Mungkin pertanyaan yang cukup frontal bagi si kakek tak sengaja di ucapkan oleh mulutku ini. Aku mungkin bersalah, tapi gimana lagi? Omongan yang telah terucap tak bisa diambil lagi. Sang kakek pun melanjutkan pembicaraan
"Alhamdulillah masih ada, tapi ya.. gitulah"
"Maksud kakek?"
"Ya, sudah ada 3 tahun lebih dia terbaring lemah diatas kasur"
"Sakit kah?"
"Iya. Kakek ke Bandung pun berusaha cari penghasilan tambahan selain dari bertani di kampung"
"Udah dibawa ke rumah sakit belum?"
"Aahh jang, boro-boro buat ke rumah sakit buat makan pun kadang susah"
"Terus, gimana dong istri kakek?"
"Ya sampe sekarang dirawat di rumah aja"
"Ya sampe sekarang dirawat di rumah aja"
"Sendirian?"
"Iya, udah lama anak-anak ga ngasih kabar juga. Kakek kangen banget"
"Iya, udah lama anak-anak ga ngasih kabar juga. Kakek kangen banget"
Aku terdiam sejenak
"Kalau bukan karena cinta dan kasih sayang sama istri, mungkin udah dibiarin aja sampe meninggal. Tapi kaena janji waktu masih muda dulu untuk terus menemani dn menyayangi itulah yang membuat kakek terus menyayangi istri kakek hingga saat ini"
Kereta pun tiba, aku lekas naik karena kereta hanya singgah sebentar. Aku sempat mengajak si kakek naik kedalam kereta yang akan kutumpangi, namun diaa menolak dan memilih menggunakan KRD Ekonomi yang selisih Rp. 5500 dari harga tiketku. Kulihat dari jendela kereta kakek terdiam sambil memancarkan senyuman kecilnya hingga kereta berjalan menjauhi stasiun.
Kita mungkin terlalu terobsesi oleh kata-kata rayuan gombal dan cinta monyet yang sekedar numpang status doang. Jalan Bareng, makan bareng, main bareng dan lain sebagainya hanya itu yang terpikirkan oleh kita tanpa tahu apakah yang akan dihadapi dimasa yang akan datang bila kita ditakdirkan berjodoh dengan orang yang kita cintai saat ini. Cinta itu Janji, Janji adalah Komitmen, dan Komitmen adalah Amanat. Bila cinta kalian hanya sebuah janji gombal semata, maka jangan harap hubungan kalian bisa berjalan mulus. Buatlah Komitmen pada cinta anda, dan ia akan menuntun jalan cintamu :)
No comments:
Post a Comment