Saturday, 16 August 2014

Kenapa harus kamu?

Aku tak paham, mengapa harus selalu engkau yang datang dalam mimpi indahku? Saat aku sudah jauh-jauh melupakanmu karena perkataanmu sendiri yang membuat aku harus menjauh. Entah apa yang ada dipikiranku sebenarnya. Padahal, aku sudah jelas melupakan orang yang pernah aku cintai tapi tak pernah datang untuk hadirnya dalam hidupku. Apakah ini suatu pertanda?

Terlalu cepat aku mengambil memang aku mengambil suatu keputusan bila itu pertanda hubungan kita. Karena aku takut bila aku terlalu menganggap semua itu adalah pertanda baikku dan lalu aku mengambil langkah untuk mendekatimu, sedangkan aku sendiri tak tahu kepada siapa hatimu berlabuh. Minder? Ya! Aku memang minder karena aku tak bisa melakukan hal yang lebih seperti orang lain. Jangankan itu, mendekati perempuan saja aku pun tak berani. Bukannya aku tak suka. Tapi aku tahu karakter seorang perempuan pada umumnya sehingga aku pun takut bila suatu hari aku menyakiti perasaannya.

Aku pun tak mengerti, mengapa harus engkau yang selalu hadir dalam lamunanku. Padahal, aku sendiri sudah mencoba berpindah hati agar aku bisa mencoba mencintai orang lain selain kamu. Tapi nyatanya? Aku memang tak bisa! Aku ini lelaki yang payah! Baru selangkah aku mendekatinya, Banyangan dirimu seolah sudah berada didepan batang hidungku. Begitu dekat memang rasanya, tapi jauh akan perasaan dari hatiku ini.

Entah mengapa aku harus sempat jatuh hati padamu. Tak ada hati memang yang menyuruh untuk melabuhkan perasaannya tanpa ada maksudnya. Tapi hati itu ibarat kapal dan dermaga, bila dermaga tak mau menerima kapal tersebut, hanya ada dua kemungkinan terburuk : Pertama dia tetap memaksakan kehendaknya untuk berlabuh dengan penuh ambisi hingga ia sendiri pun harus menerima caci maki dari sang pemilik dermaga, atau sang nahkoda kapal harus mencari dermaga lainnya agar dia bisa berlabuh walaupun dia harus memaksakan hatinya sekalipun tak sesuai dengan keinginan hatinya.

Aku pun sadar, terlalu egois bila aku harus memaksakan hatimu untukku, tapi aku cuma manusia biasa yang punya perasaan layaknya manusia lainnya. Andaikan hati kita ibarat gerbong kereta yang selalu bergandengan, aku berharap kamu bisa merasakan betapa lelahnya hati ini mengapa harus engkau hadir dalam hidup dan mimpiku layaknya lokomotif dan gerbongnya yang sama-sama merasakan berat dan panjangnya perjalanan yang mereka tempuh

No comments:

Post a Comment