Thursday, 7 August 2014

Kau Memang Pergi

Dalam penantianku aku termenung di pinggiran stasiun. Sambil kurenungkan kalau kau memang telah pergi dan tak pernah lagi kembali. Aku hanya bisa tergar walau hatiku harus menangis sekeras-kerasnya tanpa ada orang yang mendengarnya. Menunggu, tanpa aku tahu sampai kapan aku harus menuggunya. Mungkin aku ibarat menunggu sebuah kereta datang melaju didepan terminal. Cuma berkhayal! Memang aku ini pengecut. Hanya bisa mengungkapkan di belakang tanpa ada pernyataan dihadapan dirinya. Tapi ketika aku mendengar langsung dari kedua kuping telingaku ini secara tak sengaja dan ternyata kau tak suka dengan perilaku diriku aku semakin tahu kalau kau tak pernah datang untuk diriku. Kau memang pergi! Tak pernah datang walau hanya pamit.

No comments:

Post a Comment