Thursday, 4 September 2014

Kau

Selintas kupandang fotomu dalam bingkai albumku yang tertumpuk oleh ribuan kenanganku dulu. Menatap betapa indahnya matamu yang begitu penuh dengan cinta sucimu. Bahasa tubuhmu berkata seakan kau berada dalam kesunyian. Wajah ayu yang kau memiliki tersimpan berjuta rahasia dalam dirinya. Aku pun kadang merasa nyaman bila hanya sekedar berbincang pendek melalui media sosialku, walaupun tak ada obrolan yang begitu penting bagi diriku. Senyummu selalu menyejukkanku kala hatiku gundah. Ketabahanmu selalu menenangkanku kala amarahku meluap tak terbendung oleh diriku. Kadang aku sering berfikir kalau dia sering tak nyaman akan kehadiranku. Tapi aku pun mengerti, begitu sulit dirimu ditebak hingga terkadang aku baru tersadar kalau tingkahku sering buat dirinya tak nyaman.

Kau memang orang yang tak bisa ku tafsirkan dengan kata-kata, hanya hati yang bisa menafsirkan dirimu. Aku sadar, aku tak punya apa-apa yang dapat ku tunjukkan padanya. Bahkan rupa diriku berkata aku tak pantas memiliki dirinya. Jangankan harta, pikiranku saja apa yang perlu ku banggakan dihadapan dia? Tapi, siapa yang tahu dengan ketetapan tuhan?

Terlalu merendah aku berkata seperti itu, tapi terlalu meninggi bila aku terus seperti itu. Kau akan melihat diriku ada apanya. Begitupun aku! Tapi bukan kecantikanmu atau pola berfikir kamu yang kucari. Tapi aku mendapatkan sesuatu yang berbeda dari dirimu. Kutemukan betapa tulusnya kau mencintai seseorang hingga tak ada siapapun yang ingin kehilangannya. Begitu pula aku. Aku tak banyak berharap kepada dirinya, karena hanya kepada Tuhan ku aku berharap untuk dirinya. Biarkan tuhan yang menetapkan siapa jodohku dan siapa jodoh dirinya. Karena aku hanya bisa berharap, berdoa, dan berusaha menunjukan usaha yang terbaik untuk kutunjukan pada dirinya. Kupasrahkan semua pada ketetapanmu.

No comments:

Post a Comment