Sunday, 7 June 2015

Buku tanpa Sampul

Sudah lama aku terbiasa hidup dalam serba kekurangan. Tak ada benda yang istimewa di dalam rumahku kecuali sebuah sepeda motor tua dinas milik ayahku. Kami berjuang dalam kekurangan, namun semua itu tak mengurungkan niatku untuk terus bersekolah meraih cita-cita luhurku. Walaupun, kami harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terkadang kami pun harus gali lubang tutup kawah. Baru satu hutang terlunasi, banyak penagih menghampiri kami.
Tahun ajaran baru pun tiba. Aku sedikit kelimpungan untuk menyiapkan biaya sekolah. Ibu menghampiriku ditemgah keruhnya lamunanku.
“Nak, ibu mau bicara sama kamu. Tapi sebelumnya maafkan ibu ya?” ujar Ibuku.
Lantas aku pun bingung dengan seribu tanya. Ada apa ini? Ternyata ibuku tak punya uang untuk membeli persiapan sekolahku nanti. Aku pun sedikit menghibur Ibuku agar tenang hatinya. Walaupun aku sendiri bingung kalau dihadapkan pada masalah ini.
“Ibu, sudahlah. Lagian aku Cuma butuh pulpen dan pensil untuk sekolah. Tasku saja masih bagus. Yaa.. walaupun bolong-bolong dikit sih gak apa-apa” ujarku
“Lalu, bukumu nanti bagaimana?” ujar ibuku. Terlihat air matanya sedikit keluar dari pelupuk matanya.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan buku bekasku yang sudah lama aku simpan di gudang. Karena banyak buku yang sampulnya habis termakan usia dan tikus-tikus gudang, terpaksa aku harus melepas sampulnya. Karena mungkin akan terlihat jelek kalau aku tetap memaksakan sampul itu melekat disana. Tak berpikir apa yang akan terjadi di sekolah nantinya.
Sekolah pun dimulai. Beberapa temanku banyak berbeda dariku. Mereka sedikit memamerkan alat-alat sekolah yang baru mereka beli belum lama ini. Dengan sedikit melawan rasa minderku aku melangkah masuk kedalam kelasku. Pelajaran pun dimulai. Ketika semua mengeluarkan buku catatannya masing-masing, aku pun tak malu untuk mengeluarkan buku catatanku yang keadaannya bertelanjang bulat tanpa sampul. Dari sinilah aku mulai dicemoohkan oleh banyak orang.
“Hey, kamu mau sekolah atau nagih kredit kesini?” ledek salah seorang temanku.
Hampir semua teman sekelasku tertawa puas mendengar kata-kata itu. Hati memang menangis, tetapi diri harus tegar menghadapi cobaan ini. Bahkan dalam perjalanan waktu, aku sempat dipanggil oleh guruku karena aku kumpulkan buku catatan tugasku tanpa sampul. Sempat aku terkena marah karenanya. Namun aku terangkan kondisi keluargaku yang sedang terpuruk. Akhirnya semua guru pun mengerti dan banyak diantara mereka menawariku untuk mengganti buku catatanku dari uang mereka. Namun semua itu aku tolak.
“Biarkan buku ini tanpa sampul! Karena aku akan menyampulnya dengan kesuksesanku”

Ku buktikan perkataanku itu dengan prestasi yang gemilang. Kicauan berisi ledekan yang sangat menyayat hati itu tersampul sudah dengan kesuksesanku. Berkali-kali aku mendapatkan penghargaan dan kemenangan atas usahaku mengharumkan nama sekolahku di kancah dunia luar. Beberapa beasiswa pun kuterima untuk sedikit meringankan beban orang tuaku sehingga mereka bisa tetap fokus dalam berusaha. Aku pun semakin optimis untuk terus menggapai cita-citaku menuju masa depan yang telah menungguku bersama kesuksesanku. Kini, buku itu masih kusimpan baik-baik untuk kujadikan saksi bisuku di kemudian hari.

No comments:

Post a Comment