Sudah lama aku terbiasa hidup
dalam serba kekurangan. Tak ada benda yang istimewa di dalam rumahku kecuali
sebuah sepeda motor tua dinas milik ayahku. Kami berjuang dalam kekurangan,
namun semua itu tak mengurungkan niatku untuk terus bersekolah meraih cita-cita
luhurku. Walaupun, kami harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Terkadang kami pun harus gali lubang
tutup kawah. Baru satu hutang terlunasi, banyak penagih menghampiri kami.
Tahun ajaran baru pun tiba. Aku
sedikit kelimpungan untuk menyiapkan
biaya sekolah. Ibu menghampiriku ditemgah keruhnya lamunanku.
“Nak, ibu mau bicara sama kamu.
Tapi sebelumnya maafkan ibu ya?” ujar Ibuku.
Lantas aku pun bingung dengan
seribu tanya. Ada apa ini? Ternyata ibuku tak punya uang untuk membeli persiapan
sekolahku nanti. Aku pun sedikit menghibur Ibuku agar tenang hatinya. Walaupun
aku sendiri bingung kalau dihadapkan pada masalah ini.
“Ibu, sudahlah. Lagian aku Cuma
butuh pulpen dan pensil untuk sekolah. Tasku saja masih bagus. Yaa.. walaupun
bolong-bolong dikit sih gak apa-apa” ujarku
“Lalu, bukumu nanti bagaimana?”
ujar ibuku. Terlihat air matanya sedikit keluar dari pelupuk matanya.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk
menggunakan buku bekasku yang sudah lama aku simpan di gudang. Karena banyak
buku yang sampulnya habis termakan usia dan tikus-tikus gudang, terpaksa aku
harus melepas sampulnya. Karena mungkin akan terlihat jelek kalau aku tetap
memaksakan sampul itu melekat disana. Tak berpikir apa yang akan terjadi di
sekolah nantinya.
Sekolah pun dimulai. Beberapa
temanku banyak berbeda dariku. Mereka sedikit memamerkan alat-alat sekolah yang
baru mereka beli belum lama ini. Dengan sedikit melawan rasa minderku aku
melangkah masuk kedalam kelasku. Pelajaran pun dimulai. Ketika semua
mengeluarkan buku catatannya masing-masing, aku pun tak malu untuk mengeluarkan
buku catatanku yang keadaannya bertelanjang bulat tanpa sampul. Dari sinilah
aku mulai dicemoohkan oleh banyak orang.
“Hey, kamu mau sekolah atau nagih
kredit kesini?” ledek salah seorang temanku.
Hampir semua teman sekelasku
tertawa puas mendengar kata-kata itu. Hati memang menangis, tetapi diri harus
tegar menghadapi cobaan ini. Bahkan dalam perjalanan waktu, aku sempat
dipanggil oleh guruku karena aku kumpulkan buku catatan tugasku tanpa sampul. Sempat
aku terkena marah karenanya. Namun aku terangkan kondisi keluargaku yang sedang
terpuruk. Akhirnya semua guru pun mengerti dan banyak diantara mereka
menawariku untuk mengganti buku catatanku dari uang mereka. Namun semua itu aku
tolak.
“Biarkan buku ini tanpa sampul!
Karena aku akan menyampulnya dengan kesuksesanku”
Ku buktikan perkataanku itu
dengan prestasi yang gemilang. Kicauan berisi ledekan yang sangat menyayat hati
itu tersampul sudah dengan kesuksesanku. Berkali-kali aku mendapatkan penghargaan
dan kemenangan atas usahaku mengharumkan nama sekolahku di kancah dunia luar.
Beberapa beasiswa pun kuterima untuk sedikit meringankan beban orang tuaku
sehingga mereka bisa tetap fokus dalam berusaha. Aku pun semakin optimis untuk
terus menggapai cita-citaku menuju masa depan yang telah menungguku bersama
kesuksesanku. Kini, buku itu masih kusimpan baik-baik untuk kujadikan saksi
bisuku di kemudian hari.
No comments:
Post a Comment