Kaki yang lelah ku paksakan untuk
melangkah menuju stasiun. Jarak Rancaekek dan Stasiun Bandung yang lumayan
cukup jauh membuat aku menyimpan sejuta kisah diantara kedua daerah itu.
Bagiku, Bandung bukanlah soal Kota atau Kabupaten, bukan juga soal jarak antara
keduanya. Tapi begitu banyak definisi tentang bandung hingga aku pun menyimpan
sejuta kisah bersama orang-orang tersayang. Mulai dari keluarga hingga
kekasihku yang kini entah kemana dirinya.
Aku selalu mengingat kisahku bila
orang menyebut kata Bandung. Kota yang menyimpan kisah kita berdua sejak kita
dipertemukan di batas kota dan kabupaten diujung timur sana. Kita pernah
mengalami hal itu bersama walaupun kini kita telah berjalan masing-masing
sesuai dengan alur kehidupan kita. Sering aku tersenyum saat aku mengingat
wajah kamu yang begitu ayu, baik, cerdas, dan mungkin kamu adalah makhluk yang
diciptakan dengan sempurna bersama kelebihan dan kekurangannya. Saat aku
melihat kini sudah berseragam layaknya seorang perawat, aku semakin merasa
senang melihatmu mengenakan seragam yang pernah kau impikan walaupun bukan
menjadi seorang dokter
Saat kamu terjatuh sakit di rumah
sakit selatan stasiun, aku merasa biasa saja. Tapi entah mengapa rasanya kaki
ini ingin berjumpa melihat kondisimu saat itu. Pertemuan yang hanya berlangsung
tak lebih dari 5 menit itu membuat aku merasa kasihan seperti layaknya waktu
dia pulang larut magrib. Tapi, aku bukan siapa dia. Tak punya hak untuk
memenuhi keinginannya sekalipun dia meminta. Aku sedikit terhibur bisa melihat
wajahnya lagi setelah dua tahun lebih aku tak melihatnya. Kuantar dia ke
gerbang sana bersama orang tuanya sebelum aku berpisah dan tak lagi melihatnya.
Mungkin kita memendam rasa yang
sama hingga pada ahirnya aku tak lagi bisa bersamamu. Layaknya Bung menyimpan
perasaannya kepada Inggit setelah mereka berpisah. Rasanya aku ingin meminta
maaf atas kesalahan aku karena tak peka terhadap perasaan yang telah kamu
berikan saat 2,5 tahun yang lalu. Tapi yang sudah biarlah hilang bersama kenangan.
Walaupun tak lagi bersama seperti dulu, tapi kamu telah mengajarkanku banyak
hal tentang hidup. Kamu adalah orang yang selalu ku banggakan didepan
teman-temanku. Sekalipun kau berkata kamu adalah apa yang selalu ku tulis tapi
aku adalah apa yang tak pernah kau baca,
aku memang tak pernah membacamu. Tapi aku berusaha memahami karena membaca
hanya sekilas dan berhenti setelah kau tak lagi menorehkan kata diatas lembar
hidupmu.
Kita memang mungkin tak pernah
bersatu, tapi pada hakikatnya kita adalah satu. Jalani saja kisahmu dengan
orang yang kamu cintai hari ini. Aku pun akan menjalani kehidupanku sekalipun
harus berjalan sendiri. Bila suatu saat Tuhan berkehendak menyatukan kita, tunggu aku di kota ini. Kota dengan seribu
kisah penuh kasih sayang. Aku ke Bandung, dan aku kembali kepada cintaku yang
sesungguhnya...
Bandung, 22 Mei 2015
No comments:
Post a Comment