Sunday, 7 June 2015

BUNGA DI KOTA KEMBANG

Kaki yang lelah ku paksakan untuk melangkah menuju stasiun. Jarak Rancaekek dan Stasiun Bandung yang lumayan cukup jauh membuat aku menyimpan sejuta kisah diantara kedua daerah itu. 

Bagiku, Bandung bukanlah soal Kota atau Kabupaten, bukan juga soal jarak antara keduanya. Tapi begitu banyak definisi tentang bandung hingga aku pun menyimpan sejuta kisah bersama orang-orang tersayang. Mulai dari keluarga hingga kekasihku yang kini entah kemana dirinya.

Aku selalu mengingat kisahku bila orang menyebut kata Bandung. Kota yang menyimpan kisah kita berdua sejak kita dipertemukan di batas kota dan kabupaten diujung timur sana. Kita pernah mengalami hal itu bersama walaupun kini kita telah berjalan masing-masing sesuai dengan alur kehidupan kita. Sering aku tersenyum saat aku mengingat wajah kamu yang begitu ayu, baik, cerdas, dan mungkin kamu adalah makhluk yang diciptakan dengan sempurna bersama kelebihan dan kekurangannya. Saat aku melihat kini sudah berseragam layaknya seorang perawat, aku semakin merasa senang melihatmu mengenakan seragam yang pernah kau impikan walaupun bukan menjadi seorang dokter

Saat kamu terjatuh sakit di rumah sakit selatan stasiun, aku merasa biasa saja. Tapi entah mengapa rasanya kaki ini ingin berjumpa melihat kondisimu saat itu. Pertemuan yang hanya berlangsung tak lebih dari 5 menit itu membuat aku merasa kasihan seperti layaknya waktu dia pulang larut magrib. Tapi, aku bukan siapa dia. Tak punya hak untuk memenuhi keinginannya sekalipun dia meminta. Aku sedikit terhibur bisa melihat wajahnya lagi setelah dua tahun lebih aku tak melihatnya. Kuantar dia ke gerbang sana bersama orang tuanya sebelum aku berpisah dan tak lagi melihatnya.

Mungkin kita memendam rasa yang sama hingga pada ahirnya aku tak lagi bisa bersamamu. Layaknya Bung menyimpan perasaannya kepada Inggit setelah mereka berpisah. Rasanya aku ingin meminta maaf atas kesalahan aku karena tak peka terhadap perasaan yang telah kamu berikan saat 2,5 tahun yang lalu. Tapi yang sudah biarlah hilang bersama kenangan. Walaupun tak lagi bersama seperti dulu, tapi kamu telah mengajarkanku banyak hal tentang hidup. Kamu adalah orang yang selalu ku banggakan didepan teman-temanku. Sekalipun kau berkata kamu adalah apa yang selalu ku tulis tapi aku adalah apa  yang tak pernah kau baca, aku memang tak pernah membacamu. Tapi aku berusaha memahami karena membaca hanya sekilas dan berhenti setelah kau tak lagi menorehkan kata diatas lembar hidupmu.

Kita memang mungkin tak pernah bersatu, tapi pada hakikatnya kita adalah satu. Jalani saja kisahmu dengan orang yang kamu cintai hari ini. Aku pun akan menjalani kehidupanku sekalipun harus berjalan sendiri. Bila suatu saat Tuhan berkehendak menyatukan kita,  tunggu aku di kota ini. Kota dengan seribu kisah penuh kasih sayang. Aku ke Bandung, dan aku kembali kepada cintaku yang sesungguhnya...



Bandung, 22 Mei 2015

No comments:

Post a Comment