Malam yang terselimuti dingin
karena hujan membasahi bumi, ku genggam buku-buku pelajaranku sepulang dari
rumah temanku. Dengan kendaraan favoritku yang ku beri nama “Taksi Hijau”, aku
berdiri diatas trotoar yang sudah mulai mengelupas batu keramiknya. Sambil ku
menunggu kedatangannya, aku berteduh dibawah terpal-terpal yang terpasang
diatas trotoar tepat aku berdiri. Biasanya terpal ini digunakan oleh para
pedagang yang sering berjualan di sepanjang trotoar yang membentak dari sebuah
kampus ternama di jawa barat. Kubuka buku-buku yang kurasa layaknya seperti
bungkus gorengan. Namun apa daya, buku itu ku jaga dengan baik. Karena keadaan
orang tuaku yang sedang terpuruk karena usahanya yang hancur akibat orang yang
telah menipu kedua orang tuaku.
Sesampainya dirumah, aku
memandangi ibu dan adikku sedang berdiam diri dihadapan televisi yang sedang
mati. Perutku terasa lapar sehingga aku pun lekas menghampiri alat penanak nasi
yang berada dekat dengan televisi. Ketika ku lihat tak ada satu butir nasi pun
di dalamnya. Lekas ku bawa panci penanak nasi itu ke dapur untuk buatkan nasi
untuk mereka. Kelihatannya mereka sangat lapar sekali. Namun, ketika ku buka
karung beras itu ternyata sudah habis. Aku pun bertanya pada ibuku yang
meratapi aku yang sedang mencari beras.
“Bu, berasnya ada enggak? Habis
ya?” tanyaku pada ibuku.
Ketika usai aku bertanya demikian,
ibuku mencucurkan ar mata seakan aku merasa bersalah telah membuat dirinya
menangis. Ibu pun menceritakan apa yang sedang terjadi di rumah. Lantas aku pun
merasa berdosa atas perbuatanku. Berhari-hari kami kehabisan beras di rumah dan
nasi yang terakhir aku makan bersama keluargaku adalah nasi yang akan diberikan
kepada ayam peliharaan kami kemudian diolah kembali hingga seperti nasi yang
baru. Aku pun memegang erat tangan ibuku sembari menahan air mataku yang hendak
keluar sambil memohon maaf atas perbuatanku. Lekas aku pergi ke kamarku dan aku
menangis. Dalam hatiku berteriak.
“Tuhan, kenapa aku harus begini?”
Seperti biasa, aku berangkat ke
sekolah menggunakan motor dinas milik kantor ayahku. Awalnya aku menolak
menggunakannya. Bukan karena aku gengsi karena teman-temanku memiliki kendaraan
yang lebih sempurna daripadaku bahkan sepertinya kalau ada sensus kendaraan
akulah pemenang kendaraan paling “terbutut” dari yang lainnya. Tetapi aku
merasa kasihan pada ayahku yang setiap harinya harus berdesakan menggunakan
kereta api. Namun ayahku lebih mementingkanku sehingga dengan hati yang luruh
aku gunakan kendaraan itu. Yaa... walaupun butut tetapi masih enak digunakan (Menurutku
itu). Ketika ditengah perjalanan motorku mogok karena faktor usianya yang sudah
berumur. Ketika ku mendorong “Si Jagurku”
tepian jalan, seorang temanku datang menghampiriku sambil berkata : “Masih ngukut kaya gituan? Udah ga jaman
kali! Cocoknya kamu pakai tuh taksi hijau biar ga usah repot kaya gini” sambil
mengerung-gerungkan gas motornya kearahku. Ingin aku menghajar mulut busuknya
itu. Namun aku masih bersabar untuk menahan amarahku yang sudah membludak ini.
Aku terlambat 15 menit dari bel
masuk. Langkahku semakin cepat agar sampai di kelasku secepat mungkin. Aku
lekas menyasar tempat dudukku yang hanya ditempati olehku saja. Entah kenapa
tak ada yang mau duduk denganku. Tapi, bodoh amat! Baru saja aku menikmati
tempat dudukku aku dipanggil oleh staf TU dan memberikan secarik surat yang
entah apa isinya aku pun tak tahu. Ketika kulihat, hatiku langsung terhenyak
ketika ku melihat SPP ku belum terbayar 5 bulan. Entah apa yang harus ku
lakukan sehingga pikiranku seolah tak siap menerima pelajaran pada hari itu.
Aku serasa mati hati karena hampir saja aku tak percaya terhadap kuasa illahi.
Bel sekolah berteriak memanggil
para siswa untuk istirahat. Aku bergegas menuju masjid melakukan kegiatan
rutinku. Shalat dhuha. Dalam doaku aku menceritakan segala keluh kesahku yang
menimpa pada orang tuaku dan pada diriku pula. Setelah beres, Aku pun lekas
menuju perpustakaan dimana tempat tongkrongan tepatku. Memang hari itu aku tak
punya uang sedikit pun untuk jajan. Kalau ada uang itu habis untuk membayar
hutang-hutangku pada temanku. Ketika aku sedang asyik membaca buku kesukaan ku,
selintas aku mendengar penggalan perkataan yang aku dengar dari orang-orang
yang sedang berbincang dibelakangku.
“...Sukses bukan karena uang!
Tetapi sukses karena KEMAUAN!...”
Aku terdiam terpikirkan kalimat
itu. Aku pun tergugah dari jatuhku yang tehuyung-huyung. Aku Semenjak itu aku
lekas bangkit seraya hatiku berujar : “Aku akan buktikan pada mereka yang telah
menghinaku!”.
Dengan keyakinan yang kuat dan
usaha yang keras dengan diiringi doa, aku terus merakit kesuksesanku. Sedikit
demi sedikit aku berusaha bangkit dari keterpurukanku. Walau orang tuaku merasa
pesimis kalau aku bisa meraih cita-citaku yang sempat terpendam karena kondisi
keluargaku. Hinaan dan cemoohan dari teman-teman dan para tetanggaku terus
menjejali kedua telingaku tiada henti. Namun aku terus berusaha sekuatmungkin
untuk membuktikan siapa diriku sebenarnya.
“Gayanya dirimu pengen sekolah
aja harus jual ini jual itu. Jangan-jangan harga dirimu nanti juga ikut dijual”
Itulah komentar yang sangat pedas
pada diriku. Bahkan kedua orangtuaku sering kali menangis dihadapanku karena
mereka merasa dihina. Namun aku terus mengingatkan kedua orangtuaku untuk terus
bersabar dan berdoa agar bisa kembali bangkit dari jatuhku. Aku begitu yakin
kalau aku dan kedua orangtuaku bisa bangkit lagi walau dalam keadaan terkapar
karena kondisi keluargaku.
Kini, aku pun telah merasakan
manisnya kehidupan. Aku tak perlu lagi membayar uang bulanan untuk biaya
sekolahku karena aku mendapat beasiswa atas prestasiku. Bahkan aku berniat
untuk melanjutkan studiku nanti lewat jalur undangan. Aku pun telah memiliki
lembaga usaha sendiri sehingga seluruh uang jajanku berasal dari keringatku
sendiri. Cemoohan yang dulu pahit kiini menjadi sebuah pujian yang manis yang
berasal dari orang-orang yang dulu merendahkan keluargaku. Bahkan beberapa
diantaranya aku tolong dari jatuhnya. Karena didikan kedua orang tuaku untuk
tidak menjadikan orang sebagai musuh membuatku tak segan memberikan bentangan
sayap kesuksesanku pada orang yang membutuhkan. Ingin rasanya aku memberi
imbalan pada orang yang telah membisikan kalimat yang telah menghipnotisku
sebagai orang sukses. Namun dimana mereka sekarang? Aku pun tak tahu...
“...sukses bukan karena uang
tetapi sukses karena kemauan...”
No comments:
Post a Comment