Sunday, 7 June 2015

Ketika Ku Terjatuh

Malam yang terselimuti dingin karena hujan membasahi bumi, ku genggam buku-buku pelajaranku sepulang dari rumah temanku. Dengan kendaraan favoritku yang ku beri nama “Taksi Hijau”, aku berdiri diatas trotoar yang sudah mulai mengelupas batu keramiknya. Sambil ku menunggu kedatangannya, aku berteduh dibawah terpal-terpal yang terpasang diatas trotoar tepat aku berdiri. Biasanya terpal ini digunakan oleh para pedagang yang sering berjualan di sepanjang trotoar yang membentak dari sebuah kampus ternama di jawa barat. Kubuka buku-buku yang kurasa layaknya seperti bungkus gorengan. Namun apa daya, buku itu ku jaga dengan baik. Karena keadaan orang tuaku yang sedang terpuruk karena usahanya yang hancur akibat orang yang telah menipu kedua orang tuaku.
Sesampainya dirumah, aku memandangi ibu dan adikku sedang berdiam diri dihadapan televisi yang sedang mati. Perutku terasa lapar sehingga aku pun lekas menghampiri alat penanak nasi yang berada dekat dengan televisi. Ketika ku lihat tak ada satu butir nasi pun di dalamnya. Lekas ku bawa panci penanak nasi itu ke dapur untuk buatkan nasi untuk mereka. Kelihatannya mereka sangat lapar sekali. Namun, ketika ku buka karung beras itu ternyata sudah habis. Aku pun bertanya pada ibuku yang meratapi aku yang sedang mencari beras.
“Bu, berasnya ada enggak? Habis ya?” tanyaku pada ibuku.
Ketika usai aku bertanya demikian, ibuku mencucurkan ar mata seakan aku merasa bersalah telah membuat dirinya menangis. Ibu pun menceritakan apa yang sedang terjadi di rumah. Lantas aku pun merasa berdosa atas perbuatanku. Berhari-hari kami kehabisan beras di rumah dan nasi yang terakhir aku makan bersama keluargaku adalah nasi yang akan diberikan kepada ayam peliharaan kami kemudian diolah kembali hingga seperti nasi yang baru. Aku pun memegang erat tangan ibuku sembari menahan air mataku yang hendak keluar sambil memohon maaf atas perbuatanku. Lekas aku pergi ke kamarku dan aku menangis. Dalam hatiku berteriak.
“Tuhan, kenapa aku harus begini?”
Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah menggunakan motor dinas milik kantor ayahku. Awalnya aku menolak menggunakannya. Bukan karena aku gengsi karena teman-temanku memiliki kendaraan yang lebih sempurna daripadaku bahkan sepertinya kalau ada sensus kendaraan akulah pemenang kendaraan paling “terbutut” dari yang lainnya. Tetapi aku merasa kasihan pada ayahku yang setiap harinya harus berdesakan menggunakan kereta api. Namun ayahku lebih mementingkanku sehingga dengan hati yang luruh aku gunakan kendaraan itu. Yaa... walaupun butut tetapi masih enak digunakan (Menurutku itu). Ketika ditengah perjalanan motorku mogok karena faktor usianya yang sudah berumur. Ketika ku mendorong “Si Jagurku” tepian jalan, seorang temanku datang menghampiriku sambil berkata : “Masih ngukut kaya gituan? Udah ga jaman kali! Cocoknya kamu pakai tuh taksi hijau biar ga usah repot kaya gini” sambil mengerung-gerungkan gas motornya kearahku. Ingin aku menghajar mulut busuknya itu. Namun aku masih bersabar untuk menahan amarahku yang sudah membludak ini.
Aku terlambat 15 menit dari bel masuk. Langkahku semakin cepat agar sampai di kelasku secepat mungkin. Aku lekas menyasar tempat dudukku yang hanya ditempati olehku saja. Entah kenapa tak ada yang mau duduk denganku. Tapi, bodoh amat! Baru saja aku menikmati tempat dudukku aku dipanggil oleh staf TU dan memberikan secarik surat yang entah apa isinya aku pun tak tahu. Ketika kulihat, hatiku langsung terhenyak ketika ku melihat SPP ku belum terbayar 5 bulan. Entah apa yang harus ku lakukan sehingga pikiranku seolah tak siap menerima pelajaran pada hari itu. Aku serasa mati hati karena hampir saja aku tak percaya terhadap kuasa illahi.
Bel sekolah berteriak memanggil para siswa untuk istirahat. Aku bergegas menuju masjid melakukan kegiatan rutinku. Shalat dhuha. Dalam doaku aku menceritakan segala keluh kesahku yang menimpa pada orang tuaku dan pada diriku pula. Setelah beres, Aku pun lekas menuju perpustakaan dimana tempat tongkrongan tepatku. Memang hari itu aku tak punya uang sedikit pun untuk jajan. Kalau ada uang itu habis untuk membayar hutang-hutangku pada temanku. Ketika aku sedang asyik membaca buku kesukaan ku, selintas aku mendengar penggalan perkataan yang aku dengar dari orang-orang yang sedang berbincang dibelakangku.
“...Sukses bukan karena uang! Tetapi sukses karena KEMAUAN!...”
Aku terdiam terpikirkan kalimat itu. Aku pun tergugah dari jatuhku yang tehuyung-huyung. Aku Semenjak itu aku lekas bangkit seraya hatiku berujar : “Aku akan buktikan pada mereka yang telah menghinaku!”.
Dengan keyakinan yang kuat dan usaha yang keras dengan diiringi doa, aku terus merakit kesuksesanku. Sedikit demi sedikit aku berusaha bangkit dari keterpurukanku. Walau orang tuaku merasa pesimis kalau aku bisa meraih cita-citaku yang sempat terpendam karena kondisi keluargaku. Hinaan dan cemoohan dari teman-teman dan para tetanggaku terus menjejali kedua telingaku tiada henti. Namun aku terus berusaha sekuatmungkin untuk membuktikan siapa diriku sebenarnya.
“Gayanya dirimu pengen sekolah aja harus jual ini jual itu. Jangan-jangan harga dirimu nanti juga ikut dijual”
Itulah komentar yang sangat pedas pada diriku. Bahkan kedua orangtuaku sering kali menangis dihadapanku karena mereka merasa dihina. Namun aku terus mengingatkan kedua orangtuaku untuk terus bersabar dan berdoa agar bisa kembali bangkit dari jatuhku. Aku begitu yakin kalau aku dan kedua orangtuaku bisa bangkit lagi walau dalam keadaan terkapar karena kondisi keluargaku.
Kini, aku pun telah merasakan manisnya kehidupan. Aku tak perlu lagi membayar uang bulanan untuk biaya sekolahku karena aku mendapat beasiswa atas prestasiku. Bahkan aku berniat untuk melanjutkan studiku nanti lewat jalur undangan. Aku pun telah memiliki lembaga usaha sendiri sehingga seluruh uang jajanku berasal dari keringatku sendiri. Cemoohan yang dulu pahit kiini menjadi sebuah pujian yang manis yang berasal dari orang-orang yang dulu merendahkan keluargaku. Bahkan beberapa diantaranya aku tolong dari jatuhnya. Karena didikan kedua orang tuaku untuk tidak menjadikan orang sebagai musuh membuatku tak segan memberikan bentangan sayap kesuksesanku pada orang yang membutuhkan. Ingin rasanya aku memberi imbalan pada orang yang telah membisikan kalimat yang telah menghipnotisku sebagai orang sukses. Namun dimana mereka sekarang? Aku pun tak tahu...

“...sukses bukan karena uang tetapi sukses karena kemauan...”

No comments:

Post a Comment