Tuesday, 5 November 2013

Kehidupan Jalan Raya

Banyak pengalaman yang aku dapatkan selama aku masih diberi nafas dari Yang Maha Kuasa untuk mengarungi samudra kehidupan. Salah satunya saat aku menggantungkan separuh kehidupanku dibalik kemudi kendaraan. Entah itu roda 2 hingga roda 4 lebih pun aku pernah mencobanya (kecuali kendaraan air).

Saat aku pertama kali mengendarai yang namanya sepeda, aku merasa bahagia. waktu tempuhku menjadi lebih singkat ya walaupun memang sedikit capek karena aku harus mengayuh sejauh 5 km lebih menuju sekolahku dulu. Sering aku dimarahi oleh pengendara motor. Katanya jalannya lelet banget (udah tau sepeda, kaya yang ga pernah naik sepeda aja -___-), trus ngehalangin jalan dan bla...bla...bla... beribu hujatan yang sering menyalahkan pengguna sepeda. Huft, nasib.

Semakin bertambah umurku semakin banyak belajar, saat memasuki masa SMP (Saat Mencari Pacar hehe) aku sudah lihai mengendarai sepeda motor (selanjutnya motor). Jiwa pemudaku sering kali memacu adrenalinku untuk selalu memacu kuda besi yang diberikan oleh ayahku. Sering kali aku hampir (atau mungkin sudah) mencelakai pengemudi lainnya. Terutama yang menggunakan kendaraan roda 4 atau lebih. Seringkali bila sudah terjadi yang namanya celaka aku ngotot kalau itu salah pengemudi mobil. namanya orang pasti ga mau disalahin apalagi udah nyangkut materi

Aku pun mulai bisa mengendarai mobil. Wuiih... rasanya ingin dipuji oranglain dan merasa dirinya punya memang kadang tersirat dalam diriku (Ngaku aja). Tapi jujur disini aku merasa senang karena bisa mengajak teman-temanku jalan-jalan. Termasuk doi hehe. Apalagi kalau bawanya kaya orang mau B*rak di celana, ngebutnya minta ampun sampe-sampe mulai dari motor hingga Bus dan Truk pun sering disalip hingga akhirnya aku menganggap kalau mereka biang keroknya jalanan yang bikin macet. Namun disini aku kadang merasa gerah melihat tingkah pengendara roda 2 yang sering seenaknya seloyoran bawa kendaraannya tanpa mikir keselamatan orang laain dan dirinya. Giliran kena batunya yang disalahin pengguna mobil. Tapi aku masalahkan itu karena itu sendiri kelakuanku saat membawa motor.

Hingga akhirnya aku mulai berpikir kalau hanya bisa mengendarai mobil tanpa ada hasilnya buat apa? Aku pun mencoba menjadi supir angkot. Bermodalkan Sim A yang bukan umum aku mengejar setoran. Sering aku ngetem hingga lalu lintas pun menjadi macet. Salip kanan salip kiri kebut-kebutan sudah menjadi hal yang lumrah buat seorang supir angkot. Banyak sudah cacian makian orang karena ulahku ini. Namun aku berpikir, karena aku pun pernah mencaci supir angkot. Aku baru sadar disini.

Beranjak dari kemudi angkot aku pun beralih yang lebih besar lagi. Ya, Bus. Dengan modal nekat aku berusaha mencari uang tambaha untuk biaya kuliah yang mungkin lumayan juga buat orang kaya aku gini. Dengan kapasitas yang lebih besar tentunya menjadi setoran lebih banyak tetapi pengeluaran pun lebih banyak lagi karena perawatan yang lebih mahal tentunya dibanding angkot. Aku merasakan ada kekeluargaan disini. Kadang bila bus lain mogok atau punyaku sendiri sering kali saling membantu. Entah kuperbaiki mesinnya dulu atau aku mengangkut penumpangnya agar cepat sampai tujuannya. Konsentrasi, ketenangan, kesabaran, dan kerja sama membuat aku belajar banyak dibalik kemudi besar ini. Namun terkadang aku sendiri menyadari kalau aku sering membuat kemacetan. Sedikit saja bila aku tidak memposisikan kendaraanku dengan tidak tepat maka sudah pasti kemacetan terjadi. Apalagi saat ditanjakan, bila kendaraanku tak bisa membesutnya maka kendaraanku menjadi berjalan lambat dan menimbulkan macet pula. Sering aku dimaki sama orang yang menggunakan kendaraan yang lebih gesit dariku.Ya lelet lah, ya kebul ya ini itu. Belum lagi oleh penumpang. Pelan dibilang salah ngebut pun dibilang ngundang maut. Dan aku pun sadar aku pernah berlaku seperti itu.

Intinya, belajarlah kita memposisikan diri kita dalam setiap keadaan. Jangan hanya ingin posisi kita dalam posisi enak karena suatu saat kita dalam posisi yang tidak menguntungkan dan cenderung menyalahkan orang lain. Belajar menerima kesalahan dan mengerti pada orang lain :)

No comments:

Post a Comment