Saturday, 2 November 2013

Selamat Jalan Ainunku (In True Story)

Selasa 29 Oktober, hari santaiku untuk menikmati hari liburku dimasa ujian tengah semester. Aku merasa sedikit lega karena bisa kugunakan untuk mengerjakan tugas-tugasku yang menggunung di perpustakaan kampus. Lelah memang mata ini karena tiada waktu tanpa dihadapan laptop hanya sekedar mengerjakan hal-hal tentang kuliah. Begitulah kiranya nasib seorang mahasiswa.

Adzan Dzuhur berkumandang, ku bergegas laksanankan perintah-Nya. Di Masjid yang terletak di pinggir kampus ku tunaikan rukun yang kedua. Namun kekhusyuanku terusik saat handphone jam tanganku bergetar. Ku lanjutkan saja ibadahku walaupun ya.. sedikit mengganggu. Selesai kutunaikan sholat, ku lihat dalam layar jam ku terpampang nama "Bunda Ainun".

"Ada apa nelpon ya? tumben"

Aku coba menelpon balik namun tiada jawaban. Aku pun coba mengirim SMS dan akhirnya ada balasan juga.

"Ini pacarnya neng kan?"
"Iya, ada apa mih?"
"Jang Punten, Neng udah pulang"
"Maksudnya?"
"Neng udah pulang ke rahmatullah jang. Maaf "

Aku tak percaya! Hubungan yang kujalin selama 2 bulan lebih kini harus terhenti dalam ajalnya. Seakan dunia tak berpihak padaku hari ini. Dengan uang sisa yang kumiliki ku bergegas menuju rumahnya. Dan... benar saja, bendera kuning terpasang didepan rumahnya dengan orang-orang berkerumun di rumahnya. Ku coba menahan duka yang mendalam ini walau sebenarnya aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Tapi apalah kata ketika takdir telah berucap. Aku hanya bisa merelakannya pergi ke pangkuan sang pencipta. Ku langkahkan raga ini yang lemah ini menuju rumahnya menemui orang tuanya. Ku peluk ibunya dengan erat penuh kesedihan agar aku dan ibu bisa sabar menghadapinya. Aku pun dituntun kehadapan jasadnya yang terbujur kaku ditutupi kain batik di ruang tamu. Saat sang ibu membukakan kain penutup untukku, tangisanku akhirnya pecah. Kutatap wajah terakhirnya yang bersih seperti bersih dari dosanya. Kututupkan kembali kain itu agar aku tak terlalu larut dalam kepedihan ini. Ku shalatkan untuk dirinya. Dihadapannya aku terus mencucurkan air mataku.

Ku antarkan dirinya ke rumah terakhirnya yang berada di Sukabumi, aku pun ikut dalam ambulan yang mengantarkan dirinya kesana. Ku terus mencoba kuat walau air mata terus mengalir bersama hati yang gundah. Kutatap jasadnya yang hendak dimasukan ke liang lahat yang terbalut kain putih. Aku hanya bisa pasrah melihat semua ini. Mungkin ini adalah jawaban Tuhan kalau dia bukanlah jodoh yang terbaik untuk daku. Atau mungkin kisah hidupku harus seperti ini. 

Selamat Jalan Sinta Nurul Aini, Ainunku. Semoga kau tenang dalam naungan rahmat dan ridho-Nya. Kan kusimpan kenangan kita berdua dalam perjalanan hidupku ini :')

No comments:

Post a Comment